Mas Andra menatapku lekat, dari tatapannya menyiratkan bahwa ia sangat tak percaya dengan <eberadaanku yang tepat duduk disampingnya. Semua mata masih tertuju padaku, apalagi ibu
"Istrinya secantik itu, kok diduain ya?"
"Andra kayaknya sinting, istrinya secantik itu malah milih nikah lagi."
"Siapa tau aja Andra nikah lagi, karna istrinya mandul toh?"
Riuh bisik-bisik terdengar di telingaku. Aku hanya tersenyum menanggapi, biarlah mereka yang menilai secara langsung
"Baik... Berhubung istri pertama sudah datang, gimana kalo kita mulai saja meminta restunya?" suara lelaki berkemeja navy membuka percakapan. Ku yakin ia adalah orang tua dari wanita murahan itu.
Semua mengangguk begitupun denganku.
Aku menatap ke sekeliling mencari sosok wanita yang nenjadi idaman mas Andra. Namun nihil tak kunjung kutemui. Hingga satu sosok muncul diambang pintu kamar tamu, bola mataku melotot namun hanya sejenak dan kembali memasang raut wajah biasa saja.
Wanita bernama Nita itu jalan menghampiriku, digandeng oleh ibunya. Entah mengapa jantungku seakan berdebar-debar setiap langkah kakinya, walau aku bukanlah Aidah tapi mengapa hati ini terasa sakit?
Tak terbayang jika Aidah yang berada disini. Aku yakin adik kembaranku itu pasti akan menangis
'Mbak.. izinkan aku menikah dengan suamimu, juga izinkan aku sebagai adik madu untukmu.
Jleb!
Aku terperanjat kaget, dan terbuyar dari lamunan. Nanita itu duduk dilantai, tangannya melangambang di udara meminta restu dariku. Aku terdiam dan sedikit mematung, bingung untuk membalas. Namun seketika otakku langsung keluar ide.
"Aku boleh-boleh saja merestuimu menjadi adikku. Tapi dengan satu syarat," ucapku menekan
Semua mata terlonjat. Mas Andra berubah menahan geram bersamaan dengan ibu, namun aku hanya mengulas senyuman simpul.
'Apa syaratnya mbak?" tanyanya.
"Syaratnya lebih condong ke suamiku... Mas Andra. Berikan 50% saham perusahaanmu padaku, hanya itu. Dan aku tidak akan membuat syarat apapun lagi, terangku berujar.
Kini semua mata, tertuju pada mas Andra. Lelaki itu seketika mengubah raut wajahnya menjadi tentram lantaran hanya untuk dilihat baik oleh calon mertuanya.
Sungguh munafik!
"Hanya itu?" tanya mas Andra.
Aku mengangguk teguh. Biarlah 50% terlebih dahulu, sisanya akan aku urus dilain waktu.
'Baiklah. Nanti mas akan urus persyaratanmu itu,' lanjutnya.
'Terima kasih mas. Baiklah semuanya sudah jelas kan? Aku sudah merestuimu sebagai adik maduku. Silahkan nikmati makanannya, saya lelah ingin istirahat terlebih dahulu," ucapku berpamitan. Lekas aku bangkit dari duduk, dan berjalan masih dengan langkah anggun dan diamati oleh mata-mata keranjang
Jika kalian pikir aku terlalu bodoh?
Nyatanya salah telak!
Aku telah menyusun rencana yang sangat besar, jauh dari pikiran yang mereka pikirkan. Tak perlu mengotori tangan untuk diawal, karna kurasa itu adalah hal yang membuang-buang waktu. Intinya biarkan wanita nurahan itu masuk, setelah itu aku akan membuatnya trauma!
Aku duduk ditepian ranjang. Menatap lamat-lamat kearah jendela, membayangkan jika diriku adalah Aidah. Ternyata cukup perih, menyaksikan juga merela'kan orang yang dulu sangat dicintai, nyatanya kini memilih cinta lainnya.
Ting!
[Bagaimana mbak, apa semua baik-baik saja?] Pesan dari Aidah. Aku gegas mengambil benda pipih itu.
[Semua baik-baik saja Aidah. Tenang, mbakmu ini sangat pintar menyusun rencana,] balasku,
[Terimakasih mbak, oh ya. Aku mau tanya apa Reza pacar mbak?] pesannya lagi.
Kali ini aku menepuk jidat. Bagaimana aku bisa lupa tidak memberitahu kekasihku itu.
[lya Reza pacar mbak. Oh ya, jangan beritahu dia kalau kita sedang bertukar posisi!]
[Baik mbak.]
Kuhela napas kasar. Pikiran ini tiba-tiba terasa berat, benar dugaanku bertukar peran tak semudah yang dibayangkan.
[Ren. Awasi Aidah dengan Reza,] perintahku.
Tentu saja aku was-was dengan dua orang tersebut. Belum lagi teringat dengan janji Reza bahwa 2 minggu lagi ia akan memperkenalkanku dengan orang tuanya.
'Mas," panggilku sedikit terkejut. Kala tiba-tiba lelaki itu muncul diambang pintu. Tanpa menyahut mas Andra berjalan menghampiri lemari baju, tangannya mengambil beberapa berkas yang entah berkas untuk apa itu.
Hingga ia kembali membalikkan badan. Tapi kini dengan tatapan yang sungguh membuat jantungku berdebar-debar. "Dari mana kau dapatkan semua itu?" tanyanya dingin.
Aku terdiam. Mungkin maksudnya baju juga beberapa barang branded yang kukenakan ini. "Apa kau tidak tahu mas? Istrimu ini mantan pembisnis. Tentu akupun masih punya tabungan, lihat cantik'kan?" tanyaku.
Mas Andra terdiam. Tatapannya semakin lekat, aku merasa takut dan menyesal karna pertanyaan yang dilontarkan ku barusan.
'Cantik,' satu kata lirih yang terdengar ditelingaku. Aku tersenyum simpul menambah kesan cantikku semakin menawan.
"Bagaimana mas? Apa aku lebih cantik dari calon istrimu itu?" tanyaku. Mas Andra mengangguk, ia terlihat meneguk ludah berulang kali.
Mas Andra melangkah perlahan mendekat kearahku, jantungku semakin dibuat berdebar-debar olehnya.
Ku akui ia memang tampan. Bahkan Reza pun jauh diatasnya, tapi-
"Mas, stop!" tekanku. Menghentikan langkahnya, lelaki itu terkekeh.
"Sampai jumpa nanti malam," ujarnya lalu berlalu. Tubuhku mematung seketika
Bersambung......
Stay dan Nantikan konten menarik lainnya
Tidak ada komentar