Beranda
CERITA NOVEL 2025
CERITA NOVEL 2024
Godaan yang tak terduga oleh ibu ani | Mertua

Godaan yang tak terduga oleh ibu ani | Mertua

 

Godaan yang Tak Terduga Malam itu, hujan turun dengan deras, membasahi nalaman rumah mewah Ibu Ani. Cahaya lampu taman perpendar di permukaan air, menciptakan bayangan gemerlap yang berkilauan di jendela ruang tamu. Ibu Ani duduk di sofa, mengenakan gaun sutra panjang berwarna merah anggur, dengan segelas wine di tangannya.
 Pikirannya masih berputar pada kejadian pagi tadi-cara Kevin menatapnya, kata-katanya yang terasa begitu dekat dengan hatinya. Semakin ia berusaha menepis, semakin kuat perasaan itu menguasainya.
 la menghela napas panjang dan bangkit dari sofa, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke halaman. Di tengah hujan yang turun, tiba-tiba terlihat sosok yang sangat dikenalnya--Kevin.
 Ibu Ani terkejut. Kenapa menantunya datang larut malam begini?
 la buru-buru membuka pintu sebelum Kevin sempat mengetuk. Pria itu berdiri di ambang pintu, tubuhnya basah kuyup, kaosnya menempel erat di dada bidangnya. Nafasnya sedikit terengah, seakan baru saja berlari.
 "Kevin? Kenapa kamu ke sini?" tanya lIbu Ani, berusaha menyembunyikan kegugupannya

Kevin mengusap rambutnya yang basah. "Saya... butuh tempat untuk menenangkan diri, Bu."
 Ibu Ani menatapnya dengan penuh pertanyaan. "Apa yang terjadi?'
 Kevin menghela napas panjang sebelum menjawab, "Saya dan Novi bertengkar. Hal sepele, sebenarnya, tapi saya butuh waktu untuk sendiri.
 Ibu Ani menatapnya lekat-lekat. Ada sesuatu dalam suara Kevin yang terdengar lebih dari sekadar pertengkaran biasa.
 "Masuklah. Kamu basah kuyup," ujar Ibu Ani akhirnya,
Kevin melangkah masuk, meneteskan air hujan di lantai marmer. Ibu Ani buru-buru mengambil handuk dari lemari dan menyerahkannya kepada Kevin. Saat pria itu meraihnya, jari-jari mereka bersentuhan sesaat--sentuhan singkat, tapi cukup untuk membuat keduanya sama-sama menahan napas.
 'Terima kasih, Bu," ujar Kevin dengan suara yang sedikit serak.
 Ibu Ani mengangguk dan berjalan menuju dapur. "Aku buatkan teh hangat, ya? Biar badanmu nggak masuk angin.

Kevin hanya mengangguk pelan, masih berdiri di ruang tamu, mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ibu Ani mencuri pandang dari dapur, memperhatikan bagaimana garis rahangnya terlihat semakin tegas di bawah cahaya lampu. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya,.
 Saat ia kembali dengan secangkir teh, Kevin sudah duduk di sofa, menatap kosong ke jendela,
 Minumlah," ujar Ibu Ani sambil menyerahkan cangkir itu.
 Kevin meraihnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Ibu Ani duduk di sebelahnya, menjaga jarak, tapi kehadiran Kevin yang begitu dekat membuat udara di ruangan itu terasa semakin berat.
 "Sebenarnya... apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Ibu Ani akhirnya
 Kevin menunduk, mengaduk-aduk tehnya tanpa alasan. "Saya merasa Novi sudah mulai berubah. Sejak menikah, dia lebih sibuk dengan pekerjaannya, lebih sering mengabaikan saya. Rasanya seperti... saya bukan prioritasnya lagi.
 Ibu Ani mendengarkan dengan penuh perhatian. la tahu putrinya memang ambisius dalam kariernya, tapi ia tak pernah menyangka hal itu akan membuat Kevin merasa terabaikan.

"Kadang saya merasa seperti orang asing di rumah sendiri, lanjut Kevin lirih. "Saya tahu ini salah, tapi malam ini, satu-satunya tempat yang terpikir oleh saya untuk pergi adalah rumah ini."
 Ibu Ani merasakan dadanya berdesir. Kata-kata Kevin seperti sebuah pengakuan terselubung. la menelan ludah, berusaha mempertahankan kendali atas pikirannya.
 Kevin.." Ibu Ani berbisik, hampir tak terdengar
Kevin menoleh ke arahnya, mata mereka kembali bertemu dalam diam yang terlalu lama. Ada sesuatu dalam tatapan pria muda itu--sebuah keinginan, atau mungkin kebingungan.
 Hujan masih turun deras di luar, menciptakan suasana yang semakin intim di dalam ruangan. Ibu Ani merasa dirinya berada di tepi jurang, satu langkah lagi dan ia akan jatuh.
 
Tapi apakah ia ingin mundur?
Bersambung...

Stay Terus yah jangan lupa tinggalkan jejak

Tidak ada komentar

Berkomentarlah sesuai dengan topik dengan bahasa yang sopan dan mudah dimengerti.